waktu liburan bulan ini, aku reuni dengan teman2 masa kecil, dan bercerita banyak tentang kehidupan baru yang kami “dapatkan” sekarang ini.
“destiny men…. destiny……” selalu itu guyonan konyol yang kami kelakarkan setiap kali bertemu.
bagaimana tidak berteriak lantang “destiny… destiny…” kalau ternyata orang yang dulu tidak pernah kami sangka-sangka, orang yang selalu diluar lingkaran kandidat pemegang nilai terbaik di sekolah, atau diluar lingkaran berkecukupan yang selalu punya retorika menggelegar, juga diluar lingkaran nama-nama yang akan mudah diingat karna dia orang yang selalu vokal dan punya peran penting dalam kehidupan keseharian kami ini, ternyata digulirkan oleh takdir untuk menjadi the choosen, satu dari sedikit orang yang terpilih untuk masuk tukang bangunan.
takdir berjalan dengan cara yang tidak diduga-duga…. terkadang itu benar-benar menohok, dan membuat kami-kami ini kadang tersenyum, kadang tersenyum sambil melongok, susah aku menggambarkan bagaimana kenampakan orang yang tersenyum sembari mengerutkan kening dan berpikir “lha…. kok si anu malah gini tapi si anu malah gitu??”
no turning back……
seorang teman ditakdirkan terdampar di kebun sawit sebagai karyawan….
yang lain di belantara kalimantan,
ada yang di hiruk pikuk kota-kota
ada yang bolak-balik antar pulau,
ada yang meneruskan studi di sebrang lautan
ada yang masih berjibaku untuk mencari kehidupan di negeri malaysia
ada yang bentar lagi married dan ada yang sudah married.
ada sisi-sisi dimana lembar kehidupanmu itu tidak selalu bisa kamu pastikan kemana arahnya…….
lalu kami-kami ini mencoba mengeja terbata-bata. Lalu bercerita lagi dalam ketawa-ketiwi pelan sambil menyeruput teh seduh dari poci. Kita ini kan manusia yang akan terus berjuang berbuat yang terbaik yang kita bisa, tapi bagaimanapun juga, Dia yang maha segala maha.
dalam setiap perjalanan panjang kita, akan ada masanya dimana kita tiba-tiba sadar bahwa kita sudah tidak mungkin surut ke belakang. pilihan kita hanya tetap maju, atau hilang sirna dalam pencarian panjang ini.
tapi setidaknya “sekali berarti, setelah itu mati”
No comments:
Post a Comment