Mitrablogger

JOIN DI BLOG INI

Wednesday, October 12, 2011

Pantat ayam

Beberapa waktu yang lalu, aku diminta membawakan doa dalam acara ulang tahun temenku, spontan aku tolak mentah-mentah seketika itu juga…lah atas dasar apa mereka tiba-tiba memintaku jadi pembawa do’a? tapi teman-temanku tetap bersikukuh, bahwa yang membawakan do’a haruslah salah seorang dari kami…rupanya usut punya usut ada satu temanku yang merekomendasikan namaku, sial memang dia..(hehe..pis!), aku cuma bisa diam seribu kata…alamak apatah jadinya jika orang yang seperti aku ini disuruh membawa doa, aku yang banyak dosa, yang yang ke gereja dalam keadaan terpaksa yang do’a setelahnya pun masih sering sekenanya lalu melesat secepat kilat…ah, aku pulang sambil bersungut2..

Dalam perjalanan pulang aku ingat pepatah seorang teman…iseng aku menamakannya “filosofi pantat ayam” yang bisa membuatku sedikit lega…

Hari itu aku membuka doa dengan kalimat singkat…kurang lebih begini

“Adalah berat untuk saya berada di depan sini, membawakan doa untuk para ahli ibadah.. tapi saya belajar banyak dari pantat ayam, bukankah telur itu tetap kita ambil, tetap kita makan , meski itu keluar dari pantat seekor ayam?

seperti halnya doa, meski itu keluar dari seorang saya…”


No comments:

Post a Comment